Kembali ke Artikel
28 Juli 2026
Diperbarui: 27 Juli 2026

Contoh Percakapan Chatbot Toko Online: Template Siap Pakai

Jasa chatbot AI Purwokerto sistem cerdas

Artikel ini berisi 5 template percakapan chatbot toko online yang bisa langsung Anda salin dan sesuaikan. Bukan teori, bukan penjelasan apa itu chatbot. Langsung contoh dialognya. Lima skenario yang dicover: tanya stok dan varian produk, tanya ongkir dan estimasi sampai, cek status pesanan, komplain barang rusak atau salah kirim, dan follow-up keranjang yang ditinggal pembeli.

Tiap template ditulis dalam bahasa chat yang memang dipakai orang Indonesia sehari-hari. Ada juga catatan singkat kenapa alurnya dibuat begitu, termasuk kapan bot harus berhenti dan oper ke admin. Bagian itu sering dilupakan, padahal justru paling menentukan pelanggan betah atau kesal.

Template 1: Tanya Stok dan Varian Produk

Ini pertanyaan paling sering masuk di toko online mana pun. Pola umumnya: pelanggan tanya satu produk, lalu lanjut tanya warna, ukuran, atau varian lain. Bot harus bisa jawab spesifik, bukan lempar link katalog lalu selesai.

Pelanggan: Kak gamis seri Naura yang navy masih ada?

Bot: Halo kak, makasih sudah mampir. Gamis Naura warna navy masih ready ya kak. Tersedia ukuran S, M, L, dan XL. Kakak biasanya pakai ukuran apa?

Pelanggan: Yang L kak. Itu bahannya apa ya?

Bot: Ukuran L ready kak. Bahannya crepe premium, adem dan nggak nerawang. Kalau mau, aku kirimkan foto detail bahannya ya kak?

Pelanggan: Boleh kak

Bot: [mengirim foto] Ini detail bahannya kak. Kalau cocok, langsung aku bantu proses ya. Cukup balas “order” nanti aku pandu langkahnya.

Catatan alur: bot selalu menutup jawaban dengan satu pertanyaan atau satu ajakan kecil. Jawab lalu diam itu kebiasaan bot yang bikin chat mati. Perhatikan juga bot menanyakan ukuran duluan sebelum ditanya. Itu memangkas satu langkah menuju order. Kalau produk yang ditanya ternyata kosong, bot jangan cuma bilang habis. Tawarkan varian terdekat atau minta izin menghubungi lagi saat restock.

Template 2: Tanya Ongkir dan Estimasi Sampai

Pertanyaan ongkir kelihatan sepele tapi sering jadi penentu jadi beli atau tidak. Kuncinya bot harus minta data yang dibutuhkan sekali saja, jangan bolak-balik nanya.

Pelanggan: Min ongkir ke Purwokerto berapa ya?

Bot: Halo kak. Biar akurat, boleh info kecamatannya kak? Sama rencana ordernya berapa pcs, soalnya ongkir ngikut berat paket.

Pelanggan: Purwokerto Utara, mau ambil 2 gamis

Bot: Siap kak. Untuk 2 gamis (sekitar 1 kg) ke Purwokerto Utara: JNE REG Rp18.000 estimasi 2-3 hari, J&T Rp18.000 estimasi 2-3 hari, SiCepat HALU Rp15.000 estimasi 3-4 hari. Order sebelum jam 3 sore dikirim hari ini juga ya kak.

Pelanggan: Kalau order sekarang sampai Jumat nggak kak? Buat kado soalnya

Bot: Hari ini Selasa, kalau pakai JNE REG estimasinya Kamis atau Jumat kak. Kalau mau lebih aman untuk kado, ada opsi YES Rp29.000 yang biasanya sampai besok. Mau aku buatkan orderannya sekarang kak?

Catatan alur: bot minta kecamatan dan jumlah barang dalam satu pesan, bukan dua pertanyaan terpisah. Lalu jawaban ongkir langsung lengkap dengan estimasi hari, jadi pelanggan tidak perlu tanya lagi. Kalimat “order sebelum jam 3 dikirim hari ini” itu bukan hiasan. Info batas jam kirim terbukti sering jadi pendorong orang memutuskan saat itu juga.

Template 3: Cek Status Pesanan

Orang yang tanya “pesanan saya sudah sampai mana” biasanya sudah agak cemas. Jangan disuruh menunggu lama, dan jangan dijawab template kosong seperti “mohon ditunggu ya kak”.

Pelanggan: Kak mau tanya, pesanan saya sudah dikirim belum ya? Atas nama Rina

Bot: Halo kak Rina. Aku bantu cek ya. Boleh info nomor ordernya kak? Formatnya ada di chat konfirmasi, contohnya INV-20260721-XXX.

Pelanggan: INV-20260721-088

Bot: Ketemu kak. Pesanan INV-20260721-088 (gamis Naura navy, ukuran L) sudah dikirim kemarin sore via JNE, resi 1234567890. Posisi terakhir: transit di gudang sortir Semarang, estimasi sampai besok atau lusa. Mau aku kirimkan link lacak resinya kak?

Pelanggan: Boleh kak makasih

Bot: Ini ya kak [link]. Kalau sampai Jumat belum ada pergerakan, kabari aku lagi, nanti langsung aku teruskan ke tim untuk dicek ke ekspedisi.

Catatan alur: bot menyebut ulang isi pesanan, bukan cuma status. Itu cara halus menunjukkan datanya benar-benar dicek, bukan jawaban asal. Kalimat penutup juga penting: bot memberi batas waktu jelas kapan pelanggan boleh komplain lagi, sekaligus janji eskalasi. Ini mencegah pelanggan spam chat tiap beberapa jam. Syaratnya satu: chatbot Anda memang tersambung ke data order. Kalau bot cuma bisa jawab “silakan cek resi di website”, lebih baik pertanyaan ini langsung dioper ke admin saja.

Template 4: Komplain Barang Rusak atau Salah Kirim

Ini skenario paling sensitif. Aturan utamanya: bot boleh menerima komplain dan mengumpulkan data, tapi keputusan solusi harus di tangan manusia. Pelanggan yang sedang kecewa lalu merasa dipingpong robot akan berubah dari kecewa jadi marah.

Pelanggan: Kak ini gimana ya, saya pesan warna navy yang dateng malah hitam. Padahal buat acara Sabtu ini

Bot: Mohon maaf banget ya kak atas kesalahannya. Ini murni kelalaian kami dan pasti kami bantu selesaikan. Biar cepat diproses, boleh kirimkan foto produk yang diterima beserta label pengirimannya kak?

Pelanggan: [mengirim foto] Ini kak

Bot: Terima kasih kak, fotonya sudah aku terima dan komplain sudah aku catat dengan nomor tiket CP-1142. Karena ini kesalahan kirim dari kami, kakak tidak perlu keluar biaya apa pun. Aku sambungkan sekarang ke kak Dina dari tim kami untuk atur penggantiannya ya, maksimal 15 menit lagi kak Dina yang balas chat ini.

Admin (manusia): Halo kak Rina, aku Dina. Sekali lagi mohon maaf ya kak. Barang pengganti warna navy aku kirim hari ini pakai ekspedisi tercepat biar sampai sebelum Sabtu. Yang hitam nggak usah dikirim balik dulu, nanti kurir kami yang jemput. Aman ya kak?

Catatan alur: perhatikan bot cuma melakukan tiga hal. Minta maaf tanpa membela diri, kumpulkan bukti foto, dan buat nomor tiket. Setelah itu langsung eskalasi ke manusia dengan menyebut nama admin dan batas waktu respon yang konkret. “Maksimal 15 menit lagi” jauh lebih menenangkan daripada “akan segera kami proses”. Jangan pernah biarkan bot menjanjikan solusi spesifik seperti refund atau kirim ulang, karena tiap kasus komplain bisa beda kondisinya dan janji bot yang meleset akan jadi masalah baru.

Template 5: Follow-up Keranjang yang Ditinggal

Banyak calon pembeli tanya panjang lebar, bilang mau order, lalu hilang. Bukan berarti batal. Kadang cuma ketiduran atau kepotong kerjaan. Follow-up satu kali dengan nada santai sering cukup untuk menghidupkan lagi chat yang mati.

Bot (H+1 setelah chat terakhir): Halo kak Sari, kemarin sempat tanya gamis Naura navy ukuran M ya kak. Kebetulan stok ukuran M tinggal 3 pcs, jadi aku kabari dulu sebelum keburu habis. Kalau masih mau, aku bisa bantu prosesnya sekarang, atau kalau masih mikir-mikir juga nggak apa-apa kak.

Pelanggan: Eh iya kak kemarin kelupaan hehe. Itu bisa COD nggak ya?

Bot: Bisa kak, kami support COD untuk area kakak. Nanti bayar ke kurir pas barang sampai. Aku buatkan orderannya ya kak? Tinggal konfirmasi alamat lengkapnya aja.

Pelanggan: Gas kak

Catatan alur: follow-up dikirim sekali di H+1, bukan tiga kali sehari. Isinya menyebut produk spesifik yang kemarin ditanyakan, jadi terasa personal, bukan broadcast massal. Alasan follow-up juga harus jujur. Kalau stok memang menipis, sebutkan. Kalau tidak, cukup tanya kabar ordernya tanpa drama stok palsu. Sekali pelanggan sadar Anda pakai jurus stok tinggal sedikit padahal bohong, kepercayaan hilang dan susah balik. Kalau setelah satu follow-up tetap tidak dibalas, berhenti. Kirim lagi hanya saat ada momen baru seperti promo atau restock.

Logic follow-up seperti ini yang kami pasang di Aliqa AI Assistant, chatbot custom untuk Aliqa Muslim Indonesia. Masalah mereka waktu itu volume chat tinggi, lead sering terlewat, dan respon antar admin tidak konsisten. Solusinya bukan cuma bot penjawab, tapi alur follow-up otomatis supaya lead panas tidak hilang begitu saja, plus dashboard untuk memantau performa percakapan dan order.

Prinsip yang Bikin Percakapan Bot Enak Dibaca

Lima template di atas beda skenario tapi mengikuti prinsip yang sama. Ini beberapa hal yang kami pegang setiap merancang alur percakapan, hasil dari mengerjakan chatbot untuk bisnis yang chat masuknya ratusan per hari.

  • Satu pesan, satu tujuan. Jangan gabungkan salam, promosi, tiga pertanyaan, dan link katalog dalam satu balasan panjang. Orang membaca chat sambil lalu. Pesan pendek yang jelas selalu menang.
  • Selalu tutup dengan langkah berikutnya. Setiap balasan bot diakhiri pertanyaan atau ajakan kecil. Chat yang berakhir dengan “oke kak” tanpa arah itu penjualan yang menguap.
  • Bot harus tahu kapan menyerah. Komplain, negosiasi harga, permintaan aneh di luar alur, semua itu jatah manusia. Bot yang memaksa menjawab semuanya justru merusak pengalaman. Aturan praktisnya: kalau pelanggan mengulang pertanyaan yang sama dua kali atau mulai menunjukkan emosi, langsung oper ke admin.
  • Tulis seperti admin terbaik Anda mengetik. Cara paling cepat merancang bahasa bot: buka riwayat chat admin yang paling sering closing, lalu tiru gaya bahasanya. Bot yang kaku dan formal terasa seperti mesin penjawab kantor pajak, bukan toko yang ramah.

Template Sudah Ada, Tinggal Dijalankan

Kelima template di atas bebas Anda pakai dan modifikasi. Ganti nama produk, sesuaikan gaya bahasa dengan karakter toko Anda, lalu uji ke beberapa pelanggan dulu sebelum dipasang penuh.

Yang perlu diingat, template hanyalah naskah. Supaya benar-benar jalan otomatis, naskah ini butuh sistem di belakangnya: koneksi ke data stok, data order, logic eskalasi ke admin, dan follow-up terjadwal. Kalau mayoritas pelanggan Anda chat lewat WhatsApp, ada catatan khusus soal itu di halaman chatbot AI untuk WhatsApp.

Dan kalau Anda ingin alur percakapan yang dirancang khusus mengikuti SOP dan produk toko Anda sendiri, bukan template generik bawaan platform, tim kami bisa bantu lewat jasa pembuatan chatbot. Ceritakan saja dulu skenario chat yang paling sering bikin tim Anda kewalahan, nanti kita diskusikan alurnya bareng.

BACA JUGA

Artikel Lainnya di Kategori Artikel

Ingin Membaca Artikel Lainnya?

Temukan lebih banyak insight dan tips tentang teknologi dan bisnis digital.

Lihat Semua Artikel